Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Sunday, December 8, 2013

Cerpen Sebuah Pengkhianatan

Cerpen yang berjudul Sebuah Pengkhianatan ini merupakan cerpen kedua karya Fahratul Aini. Cerpen pertamanya bisa dilihat dalam cerpen berjudul Bukan Hari Terakhir

Sebuah Pengkhianatan
Oleh : Farhatul Aini 
                Punya sahabat sejati memang keinginan semua orang, terutama aku “Effie Edwina Sista” yang kata mamah papah si arti namaku berarti teman yang berharga, jujur dan mulia. Rasanya aku sangat bersyukur punya nama tersebut, karena sepertinya aku melihat cerminan dari nama ku itu, Zara dia adalah sahabat yang selalu ada, disaat senang, sedih, ketika ada kebahagiaan kita saling berbagi, ketika ada duka kita saling mengasihi. Dia sepeti bagian hidup dalam hidupku.
                Kami bersahabat dari awal masuk SMP dan sampai sekarang kami kelas 2 SMA, beruntungnya aku sejak SMP sampai SMA selalu sekelas dengan Zara itulah yang membuat aku dan Zara menjadi sahabat dekat. Tetapi di kelas 2 ini kami tidak sekelas karena kami masuk jurusan yang berbeda, aku masuk jurusan IPS dan Zara masuk jurusan IPA. Zara bagiku sangat baik walaupun dia sering mempermainkan laki-laki, bahkan sampai menangis berlutut dihadapannya, bisa dikatakan dia tidak punya perasaan. Apapun yang dia inginkan asal dia senang dia akan melakukannya. Beda sekali denganku menyakiti laki-laki saja rasanya aku tak tega apalagi membuatnya sampai menangis karnaku.
* * *
                Waktu sudah pukul 06.45, oh tidak aku akan terlambat. Aku turun dari mobil Ayahku yang mengantarku sampai depan gang sekolah. Aku langsung menuju gerbang, gerbang sekolahku cukup jauh mobil Ayah tidak muat. Aku harus berlari dan tiba-tiba terasa ada senggolan, aku tersungkur, semua buku cetak yang ada ditangan tiba-tiba berantakan di aspal. Aku langsung terbangun dan membereskan buku-bukuku ternyata aku tidak sendirian di situ, ada seorang laki-laki yang ikut membantuku dan dia berkata “maaf aku ga sengaja, aku sudah terlambat aku harus mendatangi guru piket“. Belum aku bicara, setelah selesai membereskan buku dia melesat pergi begitu saja. Kesal sekali padahal banyak kata-kata yang ingin ku lontararkan. Tapi mulutku bungkam ketika melihat wajahnya. Tampan sekali, hampir satu menit aku tediam di jalan seperti orang bodoh. Setelah sadar dari lamunan, aku melanjutkan lari menuju kelasku. Tidak terjadi apa-apa guru di kelasku belum masuk.
                Pelajaran pertama berjalan dengan lancar, aku dan Zara pergi ke Kantin untuk mancari makanan, mengisi perut yang sudah lama protes. Walaupun kita tidak sekelas tetapi dimana ada Zara disitu ada aku. Ketika kami sedang duduk santai, tiba-tiba mataku tertuju pada satu arah disana. Orang itu, yang tadi pagi membuat buku-buku cetak ku berantakan.
                “hei kenapa kau melamun seperti itu ?” Tanya Zara
                “za dia sangat tampan.” Jawabku
                “siapa?” Tanya Zara penasaran
                “dia, rambutnya yang hitam begitu menawan, bentuk tubuhnya yang seperti manekin pria, senyumnya manis, lesung pipinya menambah kesempurnaan.” jawabku sambil menunjuk pria yang sedang berjalan itu.
Tapi Zara melihatnya dengan kaget dan raut mukanya yang tidak biasa.
“oh dia anak baru di kelasku, kamu naksir?” Jawab Zara dengan raut yang tak biasa dan aneh
“ya ra aku naksir, sepertinya dia bisa mengobati luka traumaku.”
                Aku memang sudah lama mengalami trauma cinta, sejak putus dengan Kevin pacarku ketika aku duduk di kelas 1 SMA, aku seperti mati rasa, tidak pernah mengalami perasaan suka lagi, apalagi cinta, tapi kini aku seperti menemukan sesuatu yang baru dalam hidupku.
“ baiklah akan aku carikan informasi tentang dia buat sahabatku yang sangat tergila-gila ini.” ledek Zara
“Terimakasih sahabatku”
                Zara memang paling mengerti tentang apa yang aku mau, aku yakin segera dia akan mendapatkan banyak informasi tentang cowok ganteng itu, karena dia banyak dekat dengan geng laki-laki di sekolah kami,  diapun bisa mencari informasi dengan mudah.
* * *
                Keesokannya Zara sudah mendapatkan informasi tentang dia, bahkan bukan hanya sekedar informasi kecil, namun seperti biodata lengkap. Namanya Brian Lutfy Sananta, dia anak baru di kelas XI IPA 5, dia pindahan dari Banten, rumahnya tak jauh dari sekolah, Dia pindah karena tugas orangtuanya, tapi yang paling aku terkejut dia menyebutkan Brian sangat menyukai warna coklat. Ko Zara bisa secepat itu tau warna kesukaannya, padahal dia baru sekolah sehari apa mungkin perkenalan di kelasnya sedetail itu ? tapi aku tak terlalu memikirkannya.
                Hari ini pulang sore, karena ada tambahan jam eskul. Aduh biasanya sore begini ayah telat jemput, aku menunggu di Halte depan sekolahku. Tak berapa lama kemudian, cowok tak asing lagi bagiku. Yaa Brian Lutfy Sananta, dia baru saja keluar dari gerbang sekolah dan dia akan lewat di depanku, rasanya jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Tapi tak hanya sekedar lewat, dia berhenti di depan saat mata ku memandangnya dengan lurus .
                “hei, belum pulang ?” Tanya dia dengan ramah diiringi senyuman.
                “belum ,tadi ada jam eskul, kamu sendiri baru pulang ?”
                “ yaa tadi masih mengurus kepindahanku, oh iya maaf ya kemaren aku tidak sengaja menabrakmu aku langsung kabur begitu saja, soalnya aku sedang buru-buru, bagaimana kalau menebus kesalahanku aku menemanimu menunggu jemputan ? “
Aku seperti sedang bermimpi, orang yang sedang mengisi hatiku ada di depanku, apa yang ingin ku katakan rasanya semuanya membisu, aku tak mampu berkata-kata .
                “baiklah“ aku jawab dengan sangat bersemangat J
                Tak terasa waktu memang berputar cepat, jemputanku sudah datang aku harus mengakhiri perbincangan ku dengan Brian padahal aku ingin lebih lama bersamanya. Sejak pertemuan pertama kami, kami jadi sering bertemu dan mengobrol, bahkan kami sudah bertukar nomer hp, kadang setiap ada waktu kami sering telfonan hanya sekedar mengobrol. Sepertinya dia bisa menjadi teman yang asik.
* * *
                Sudah lama aku ingin menceritakan kedekatanku dengan Brian kepada Zara tapi akhir-akhir ini dia sibuk, bahkan kami jarang sekali bertemu, aneh rasanya seperti Zara sedang menjaga jarak denganku. Tapi aku dengar-dengar kini dia sedang dekat dengan teman sekelasnya,ohh… ketika mendengar berita itu pikiranku menyeruak apakah BRIAN LUTFY SANANTA? jika itu terjadi rasanya hatiku tidak ingin lagi jatuh cinta, aku pasti akan mengalami mati rasa yang kesekian kalinya, aku tidak ingin mempunyai sahabat lagi, bahkan ketika telingaku mampu mendengar aku ingin tuli saja, aku ingin tusukkan ujung pisau yang tajam dari belakang di hati sahabatku. ahh pikiranku memang gampang berlebihan, tak mungkinlah sahabat baik seperti Zara tega seperti itu .
                Hari minggu, aku ingin mengajak Zara ke mall karena sedang ada big sale, biasanya kami memang tak mau kelewatan belanja jika ada big sale. Tapi yang buat aku kecewa dia tak mau menemaniku, dia bilang ada acara . hmm yaa sudah aku akan mengajak Randy saja. Dia tetangga ku yang paling baik hati. Cowok ganteng yang terlalu baik dengan ku. Tapi sayang usia kami terpaut jauh, aku hanya menganggapnya sebagai kaka, walaupun kadang perhatianya berlebihan buat seorang kaka.
                Akhirnya setelah aku bujuk dengan rayuan paling manisku ka Randy pun tidak berfikir panjang untuk bersedia mengantarku. Kami pergi tepatnya jam 03.00 sore, kamipun langsung menuju mall sasaran yang mengadakan big sale dengan menggunakan motor ninjanya yang bermodif keren berwarna coklat .
                Kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu, sebelum berburu baju, tas, sandal dan accecories lainnya.
                Hei apa yang aku lihat, dengan siapa Zara asik mengobrol tertawa-tawa lepas, seorang laki-laki yang aku kenal, tak asing lagi, dia adalah Brian Lutfy Sananta. Apa yang Zara lakukan dengannya ? kakiku berhenti tak mampu melanjutkan langkahku. aku lemas seperti tak berdaya disitu. Ingin aku rasanya berhenti mendengar tawanya yang begitu menunjukan tawa bahagia, ingin rasanya aku menutup mataku rapat agar tidak melihat kemesraan yang mereka buat, ingin kutusukkan ujung pisau yang tajam lalu ku tancapkan di tengah bagian hatinya, ku cabik robek hingga tak tampak seperti hati, karena dia adalah orang yang tak pantas punya hati, hati yang kotor namun ku kira ia bersih, hati seorang ZARA VELYC ANDIN.
                Disaat air mataku tak mampu menahan balutan lukaku, ditanganku seperti ada rasa lembut menyelimuti, ya ka Randy sepertinya dia sedekit mengerti apa yang aku rasakan karena diapun melihat kebersamaan Zara dengan lelaki itu. Ka Randy mengenal betul kepribadianku, seperti dia adalah cerminan dari diriku. Tak berkata-kata Ka Randy langsung menarik tanganku menuju Cafe, akupun seperti boneka mainan yang sedang dikendalikan pemiliknya, tanpa mengelak aku langsung berjalan.
                Di Cafe aku menceritakan semua yang terjadi, tapi ka Randy seperti menenangkan hatiku, air martaku yang tadi menetes kian terhapus. Kata-kata nasehatnya yang begitu menyentuh mampu mengembalikan suasana. Setelah berbelanja puas ka Randy mengatarku pulang.
* * *
                Setelah kejadian itu hatiku selalu diselimuti kegalauan, aku belum mampu melihat wajah Zara si pengkhianat itu. Ketika pulang sekolah tiba-tiba Zara ada di depan kelasku, oh tidak itu pertama kali aku melihat muka pengkhianat seperti tak berdosa itu menampakkan senyum manisnya, harus berkata apa aku ? apakah aku harus marah ? mencabik-cabik mukanya ? dan tiba-tiba dari arah berlawanan, Brian menghampiri kami, oh pembawa luka satu datang lagi. Zara tampak bingung dan gemeteran seperti sedang mengalami ketegangan saat menghadapi ujian nasional saja. Tapi yang terfikirkan oleh ku adalah tidak meluapkan semua emosiku.
“Zara tenang saja aku sudah tau semua “
“ tau apa ? “
“kau berpacaran bukan dengan Brian ?“
Itu kata terakhirku lalu pergi meninggalkan mereka
Zara mengejarku begitupun Brian, Sampailah kita di taman sekolah, Zara menyuruhku berhenti, ya aku turuti saja permintaan pengkhianat itu tapi mungkin untuk terakhir kalinya.
                Zara menjelaskan semuanya, bahwa dia dengan Brian memang bukan teman biasa, sebelum Brian pindah dia adalah teman Zara sejak kecil ketika tinggal di Banten, bahkan mereka sempat menjalin hubungan, ketika Zara pindah mereka lost contact, dan kini cinta yang dulu dipertemukan kembali. Tapi pertemuan yang tidak tepat, membuat mereka harus berkhianat, Zara menutupinya dariku karena dia tak ingin melihatku meraskan sakit hati lagi.
                Tapi kini, aku merasakan sakit yang amat melebihi sakitku dikhianati cinta, sakit dikhianati orang yang sangat dipercaya. Sejak itu aku memutuskan tidak akan ada permusuhan, biar saja aku mengalami sakit karena sakit ini aku yang membuatnya sendiri, berfikir kembali ketika awal pertemuan dengan Brian, kalau saja aku tidak telat saat itu, tidak akan aku merasakan sakit hati sekarang.
                  Aku memutuskan untuk tetap berteman dengan Zara walaupun dia tidak akan aku anggap lagi sebagai sahabatku, karena seorang sahabat tak akan mungkin melukai hati sahabatnya dengan sengaja. Dan Brian dia hanyalah sepenggalan cerita kecil yang mengotori hatiku, dan membuat luka yang amat mendalam.
-the end-
Fb : Farhatul.aini@yahoo.com 
twitter : @ainibarnessa
E-mail : ainibarnessa@yahoo.co.id
ReadFull Article ..

Thursday, October 24, 2013

Cerpen Sedih Benar Benar Tak Bisa

BENAR-BENAR TAK BISA
Oleh Ellaisda

Kamarku mulai terasa hangat. Cahaya sang mentari mulai menyilaukan mataku yang belum sepenuhnya terbuka. Aku berusaha bangun dari ranjangku dan berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Segera mandi, dan bla bla bla. Rutinitas pagi yang setiap pelajar lakukan.
“Pagi ayah, ibu..” sapaku saat bertemu mereka di meja makan
“Makan dulu gih..” pinta ibuku
“Nggak deh bu, si Ega udah nungguin di depan rumah. Nih, dari tadi dia misscalled melulu.”
“Kok nggak diajak masuk?” sahut ayahnya
“Nggak usah yah. Kapan-kapan saja, udah keburu nih. Berangkat dulu Yah, Bu. Assalamualaikum.” Ucapnya sambil mencium tangan ayah dan ibunya
**

“Ayo cepetan! Sudah hampir telat nih..”
“Iya iya, sabar sedikit lah. Bawel banget sih jadi cowok.” Aku segera naik keboncengan motornya
Ega itu temanku sejak TK. Rumah kami dekat, jadi setiap hari selalu berangkat bersama. Kami sangat dekat. Kemana-mana selalu berdua. Dimana ada dia, disitu ada aku. Seperti Galih dan Ratna. Banyak orang yang salah paham saat melihat kami berdua, banyak yang mengira kami pacaran, padahal belom (Ngarep jadi pacar).
**

“Huft, untung belom telat. Kamu sih, LEMOT..” sambil menjitak keningku
“Argh, sakit tau! Dasar bawel. Biasanya kamu yang telat saja aku nggak protes, giliran aku, diomelin terus. Huh!”
“Heh, wajah mu nggak cocok buat marah. Nggak kelihatan imut tau!” goda Ega
“Whatever you said. I dont care.” Aku pun bergegas masuk ke kelas, diikuti oleh Ega
**

Aku duduk di bangku ku. Lalu tiba-tiba Ega nongol di sampingku, padahal kelasnya berjarak 2 kelas dari kelas ku. Belom sempat aku nanya, dia sudah berceloteh duluan.
“Eh, Ra, jadi pengen cari pacar nih. Anak kelas 1 imut-imut ya?”
Aku tersentak. Terus terang, aku merasa cemburu. Tanpa disadari, perasaan cinta telah ada dan berkembang dihatiku. Entah dari mana dan sejak kapan cinta itu datang, tapi yang jelas, kebersamaan kami telah menumbuhkan benih-benih cinta. Tapi aku tak berani mengungkapkannya. Aku takut akan merrusak persahabatan kami.
“Ya itu sih terserah lo. Kan lo yang ngejalanin, lagian juga sering begitu kan sama cewek lain. Dan lagi, cewek kelas 1 banyak yang centil kan? Lo suka kan?” jawabku dengan nada sinis
“Jealous ya? Aku nggak suka sama cewek centil, yang penting baik, cantik, imut dan plus plus lainnya. Haha” ia tertawa sendiri, padahal menurutku nggak ada yang lucu. Kubalas saja dengan senyum nggak ikhlas. Tapi aku lega mendengarnya. Untung saja dia punya selera yang tinggi. Walaupun dia berulang kali ngomong mau cari pacar, tapi nggak pernah ada yang kena dihatinya. “Alhamdulillah.” batinku
**

Usai pulang sekolah, kami selalu bergegas pulang. Dan seperti biasa, aku menunggu Ega mengembil motornya di depan gerbang sekolah. Nggak di depan gerbang sekolah sih, sebenarnya udah jauh dari gerbang. Sekitar 15 meter lah. Ngga sengaja aku lihat seorang gadis manis yang terlihat ketakutan karena digoda oleh beberapa brandalan yang nggak jelas. Tanpa pikir panjang, aku pun menghampirinya.
“Dek, maaf ya menunggu lama. Ayo pulang.” Aku pura-para saja sok kenal demi menyelamatkannya. Walaupun ia terlihat agak bingung, tapi ia mengiyakan saja tawaranku.
**

Setelah jauh dari berandalan itu,
“Terimakasih ya kak. Aku nggak tau deh, kalau nggak ada kakak tadi. Aku Tita, kelas 1-B.” Ia melempar senyum manis padaku
“Iya dek, sama-sama. Aku Fara, 2-A4. Lain kali, kalau menunggu di depan gerbang saja, atau disini. Memang disana banyak orang nggak jelas. Duluan ya dek.”
“Iya kak, hati-hati.”
Aku bergegas menuju Ega karena sejak tadi ia terus membunyikan klaksonnya.
**

Beberapa hari kemudian, aku bertemu Tita lagi. Kami bertukar nomor HP, dan bahkan Tita pun mentraktirku makan di kantin. Kami menjadi semakin dekat. Ega pun tau hal itu.
**

Pagi ini, Ega terlihat sangat sumringah. Walaupun ia selalu bersemangat dalam segala hal, tapi ia lebih sumringah hari ini.
“Cewek yang kamu tolong dulu namanya Tita kan?”
“Hemb.” Jawabku singkat. Sekarang aku jadi tau apa alasannya dia sumringah banget hari ini. “Pantas saja, kemarin dia memberondongku dengan pertanyaan tentangnya (Tita).” Batinku
“Dia manis ya?”
Aku hanya mengangguk
“Kamu punya nomor HP-nya kan? Boleh minta?” pintanya dengan wajah memelas
“Nih!” ku serahkan HP ku padanya. Aku pun nggak risau, karena dia sering meminta nomor HP cewek lain, tapi pada akhirnya nggak cocok.
**

Ega belakangan ini sangat sibuk. Jarang berangkat bareng, jarang nongol secara tiba-tiba, SMS ku nggak dibalas, telpon ku pun nggak diangkat. “Kemana dia? Kok hilang begitu saja? Apa sih maunya?!” teriakku kesal dalam hati
**

Suatu siang, dia tiba-tiba nongol begitu saja dihadapanku ketika aku sedang mendengarkan musik di headset. Aku lega karena bisa melihatnya lagi.
“Sendirian Ra? Maaf ya, kita belakangan ini jarang berangkat bareng. SMS dan telpon mu juga nggak sempat aku jawab, aku belakangan ini sangat sibuk dan jarang buka HP.” Jelasnya panjang lebar
“Oh.” Jawabku singkat. Aku tahu dia sedang bohong. Padahal jelas-jelas lagi pegang HP, tapi apa aku harus marah gitu? Memang aku siapanya dia?
“Kamu nggak khawatir kalau aku nggak ada kabar?”
“Nggak tuh, biasa saja. Baru seminggu kan?”
“(hahaha). Bilang saja kalau kamu..” belum saja dia selesai menjawab, HP nya berdering. Wajahnya terlihat sumringah dan sedikit gugup saat melihat nama penelpon di layar HP-nya. Aku jadi penasaran dan mematikan musik, tapi tetap memakai heatset. Kini aku bersiap menguping pembicaraannya. Dia menarik napas panjang sebelum menggeser pilihan layar accept pada HP touchscreen-nya. Suara lembut pun terdengar dari HP-nya. Suara yang ku kenal, suara Tita.
“Maaf kak, aku tadi lagi sibuk. Kakak tidak marah kan?”
“Oh, nggak kok.” Jawab Ega dengan senyum mengembang
Entah kenapa, aku menjadi sedih nggak karuan. Aku malah sedih melihatnya senang. Aku malah benci melihatnya tersenyum kepada orang lain. Aku marah, tapi tak tau harus bagaimana. aku ingin meng-ungkapkannya, tapi itu tidak mungkin. Aku menggenggam erat tanganku, berusaha menahan semuanya. Tapi air mata ini tak terelakkan lagi. Aku pun menengis sejadi-jadinya.
**

Suara Ega memecah tangisku.
“Ra, kamu baik-baik saja kan?” tanya-nya dengan khawatir
“Eh, nggak pa-pa. Abis, lagunya sedih banget.” elak ku
“(hahaha) Sejak kapan lo jadi melankolis gini?” ejeknya
Aku tidak menjawab dan masih berusaha untuk terlihat biasa saja.
“Sabtu besok, aku akan menyatakan cinta ke Tita. Kamu ikut ya? Aku pengen kamu yang jadi saksinya.” Pintanya memelas
Aku tersenyum kecut, “Emangnya nikah apa? Pakai saksi segala, hehe.”
Aku berusaha membuat diriku lebih baik. Tapi aku tetap tidak bisa, dadaku masih saja sesak saat tahu kenyataan ini.
**

Hari-hari semakin menyedihkan. Ega semakin gencar menceritakan Tita. Mau tidak mau, aku harus mendengarkan, walaupun dengan wajah bermuram durja. Hatiku seperti bara yang disulut api saat melihatnya tersenyum kepada Tita. Kadang aku berpikir, apakah dia sebodoh itu, hingga ia tidak menyadari perasaanku? Ingin rasanya aku berteriak di depannya tentang perasaan ku, tapi mana mungkin? Itu semua hanya tindakan konyol yang nggak perhatiin sebab dan akibat.
**

Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh Ega. Tapi hari yang ingin sekali aku lewati selamanya. Mereka berjanji bertemu di cafe ini. Cafe yang berinterior sederhana, dengan lampu taman yang menghiasi setiap meja. Memang sangat romantis untuk menyatakan cinta. Aku sangat berharap Tita tidak bisa datang, atau bahkan sesuatu terjadi padanya hingga ia tak mungkin lagi muncul. “Ah, apa yang aku pikirkan? Aku memang mencintai Ega, tapi aku tidak mau menjadi monster untuk mendapatkannya!” celotehku dalam hati
**

Tak berapa lama, Tita pun muncul. Ia muncul dengan wajah yang berseri-seri sambil tersenyum manis pada Ega. Sadar kalau suasananya semakin menyebalkan, aku pun pindah meja. Lalu, Tita duduk di depan Ega, di kursi yang sebelumnya aku duduki. Klimaksnya pun dimulai. Ega memegang tangan Tita, dan mengucapkan sesuatu. Meski aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas, karena tempat duduk kami lumayan jauh, tapi aku bisa menebaknya. “Aku suka kamu. Apa kamu mau jadi pacarku?” kurang lebih itu yang Ega katakan. Sesaat kemudian, senyum manis dan anggukan Tita menyambut pertanyaan Ega.
Aku sudah tidak syok lagi, tapi kenapa hati ini tidak bisa biasa saja melihat semua itu. Dan (lagi) aku menangis. Aku pergi meninggalkan mereka berdua. Aku benar-benar tak tahan. Aku benar-benar tidak mau menjadi saksi cinta mereka berdua. Aku, benar-benar tak bisa.
**

Aku berlari menjauh. Sejauh mungkin dari mereka. Aku ingin pergi ke tempat dimana tidak ada mereka. Tak ada yang menyebut nama mereka. Dan tak ada satu pun tentang mereka.
Tiba-tiba kepalaku terasa berat. Tubuhku lemas untuk menopang tubuh kecilku. Kesadaranku mulai hilang, dan tubuhku ambruk begitu saja. (to be continue)

Demikian cerpen sedih kali ini, tunggu update cerpen sedih selanjutnya ...
ReadFull Article ..

Kirim Karya cerpen puisi cerita

Jika kamu bisa membuat karya sastra seperti [puisi, cerpen dan cerita], blog ini siap menampung kreatifitas kamu untuk di muat agar dapat di baca oleh orang banyak di internet.

Bagi yg berminat, baca dulu syarat dan ketentuannya :

  • Tulisan yang dikirim adalah karya asli yang belum pernah di publikasikan di tempat lain (website/blog) kecuali pada media cetak. 
  • Harap untuk menyertakan nama pengarang bersama dengan tulisan.
  • Karya cerpen atau puisi yang di kirim harus ditulis dalam bahasa yang baik dan benar. Tidak boleh menggunakan bahasa chatting atau SMS dan bahasa 4l4y lainnya.
  • Kategori karya tidak di batasi seperti cerpen cinta, cerpen persahabatan, puisi romantis, puisi perjuangan, cerita motivasi, cerita humor, dll. 
  • Karya yang akan di publikasikan akan melalui proses editing terlebih dahulu oleh saya selaku admin.
  • Karya yang telah di kirimkan telah menjadi hak penuh admin, sehingga kamu tidak dapat meminta penghapusan karya yang sudah di muat.
Bagi yang karyanya di publikasikan berhak memuat foto dan nama di akhir karya serta berhak mendapatkan maksimal 2 live link menuju website/blog atau menuju social media profile (facebook/twitter).

Ayo segera kirim karyamu ke dombiza@gmail.com dengan format :

kepada : dombiza@gmail.com
subjek : cerpen / puisi / cerita - nama kamu
isi : masukkan karyamu di sini ....

Ok, di tunggu yach !!!
ReadFull Article ..