Showing posts with label tak. Show all posts
Showing posts with label tak. Show all posts

Thursday, October 24, 2013

Ritual Aneh Di Tulungagung Mandi Tak Boleh Menutup Payudara

! -Tulungagung Ada larangan tak tertulis bagi kaum perempuan yang mandi di sumber air yang dikeramatkan ini. Mereka dilarang menutupi payudaranya. Alhasil, ritual pamer payudara pun semarak. Terutama di malam Jum’at Legi….
Ritual Payudara Umbul Manding sumber air bersih yang ada di Desa Semanding, Keca. Pucanglaban, Kab. Tulungagung, Jawa Timur. Sejak dulu debit air di tempat ini memang besar. Bahkan, saat kemarau panjang sekalipun, umbul ini tak pernah kekurangan air.


Karena debit airnya yang relatif besar dan bersih, maka sumber air ini sejak dulu dimanfaatkan warga Desa Semanding dan sekitarnya. Terutama untuk masak, mandi, mencuci, bahkan untuk mengairi sawah. Maklum saja, Umbul Manding memang berada di daerah pegunungan yang amat sulit air.

Yang dapat dikatakan unik, tempat yang biasanya digunakan untuk mandi sejak dulu sengaja dibiarkan terbuka. Tidak ditutupi apa-apa. Padahal, yang mandi disitu tidak hanya laki-laki, tapi juga perempuan. Mereka berbaur menjadi satu untuk mandi bersama.

Adakah rasa kikuk atau malu pada diri mereka? Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, maka tidak ada yang merasa malu jika dilihat orang, terutama lawan jenis. Bahkan kalau kaum perempuan sedang mandi mereka sama sekali tidak perlu merasa repot menyembunyikan payudaranya. Bahkan, ada kesan payudara itu sengaja dipamerkan.

Bagi warga pendatang yang belum terbiasa, kalau mandi di Umbul terpaksa menutupi payudaranya. Salah satunya seperti dialami Darsini, seorang guru SD yang ditugaskan mengajar di daerah itu.
Bu Darsini mengaku pada awalnya sangat malu kalau mandi di umbul. Namun, karena tidak ada sumber air di desa tempatnya mengabdi selain umbul itu, dia terpaksa mandi disitu juga. Karena masih malu, pada awalnya kalau mandi terpaksa dia memakai baju. Lama-lama karena sudah biasa bajunya dilepas, begitu juga BH-nya. Akhirnya, kalau mandi telanjang dada.

“Tidak tahu kenapa, tapi mungkin karena kebiasaan, sekarang kalau mandi saya ikut dengan warga. Semuanya pamer payudara,” kata Bu Darsini sambil tersenyum. Walau didekatnya ada Pak Guru dia tidak merasa malu lagi. “Biarin, dari pada dilihat orang lain, lebih baik dilihat teman sendiri,” selorohnya.
Karena ritual mandi telanjang dada ini, maka siapa saja yang kebetulan lewat bisa melihat dengan jelas payudara wanita-wanita desa setempat.

Dilihat dari dekat, masyarakat Desa Semanding memang tergolong masih kolot. Contohnya, warga di sana masih percaya dengan berbagai kepercayaan kuno. Umpamanya, perawan sebelum datang bulan yang pertama, giginya harus dipungur. Alasannya, kalau sudah datang bulan payudaranya supaya cepat besar. Kalau sudah begitu, perawan tersebut biar cepat laku.

Karena masih percaya dengan adat dan kepercayaan tersebut, jumlah wanita di sana yang tidak bisa menyelesaikan pendidikan dasar masih sangat tinggi. Sebab walau masih SD kalau payudaranya sudah kelihatan besar langsung ditikahkan. Umumnya orang tua disana merasa malu kalau punya anak perawan yang payudaranya sudah kelihatan besar, tapi belum menikah.

Anehnya lagi, bagi yang sudah tidak perawan, pulang mandi dari umbul selalu telanjang dada.
“Nanti kalau tidak telanjang dada malah dikira masih perawan. Padahal anak saya sudah tiga,” kata Yu Sayem ketika minta keterangan oleh Misteri.

Kenapa tempat mandi di Umbul Manding dibiarkan terbuka? Dan, kenapa juga kalau mandi kaum perempuan harus bertelanjang dada?

Rupanya hal ini berkaitan dengan sebuah legenda masyarakat Semanding. Mereka percaya dengan kisah perawan desa yang bernama Srikunti.

Alkisah, beberapa puluh tahun silam, Srikunti ikut daftar jadi calon PNS. Ternyata dia diterima. Bahkan kemudian bunga desa ini menjadi guru di SD Semanding.

Walau Srikunti sudah menjadi guru namun dia tidak berubah. Terhadap siapa saja dia tetap tidak membeda-bedakan. Sehingga banyak orang yang simpati kepadanya. Salah satunya adalah mandor hutan yang bernama Basman. Cinta Basman diterima Srikunti. Keduanya berjanji akan hidup bersama.

Akhirnya setelah menikah, Srikunti diboyong Basman ke rumah orang tuanya yang juga ada di Desa Semanding. Mula-mula penganten ini hidup rukun. Srikunti sendiri waktu itu sudah kerasan hidup di rumah mertuanya.

Tetapi yang namanya hidup berrumah tangga ada saja rintangannya. Suatu ketika Srikunti mendengar kabar kalau suaminya suka mabuk-mabukkan. Walau dia sudah mengingatkan, suaminya tetap saja tidak mau mendengar. Hampir setiap hari Basman malah pulang sempoyongan karena mabuk.

Karena merasa kecewa, diam-diam Srikunti nekad pergi meninggalkan rumah. Supaya tidak terlihat orang setelah Maghrib dia baru berangkat. Namun setelah dia sampai di Umbul Munding malah berhenti. Lalu dia duduk di tepi umbul. Angan-angannnya pergi entah kemana. Dia teringat orang tuannya dan adik-adiknya. Hatinya susah.

Tidak terasa, sudah begitu lama Srikunti duduk melamun di tepi umbul. Sewaktu dia akan meninggalkan umbul, tiba-tiba dari dalam air muncul seorang puteri yang naik bulus raksasa. Sang putri menghampiri Srikunti.

“Kamu jangan mupus (putus asa) dan harus tetap tabah,” kata puteri itu. “Aku datang mau menolong kamu. Sekarang pulanglah ke rumah orang tuamu. Sediakan bunga tujuh warna. Besok bawa ke sini. Apa yang kamu minta bakal kesampaian,” sambungnya.
Setelah berkata begitu, puteri cantik tadi hilang entah kemana. Yang kelihatan di depan Srikunti tinggal bulus yang tadi dinaiki sang puteri.

Sementara itu, di rumah Basman bingung mencari isterinya. Sudah dicari kemana-mana tapi tidak ada.
Waktu tengah malam, Basman mendengar kabar kalau ada seorang wanita pingsan di dekat Umbul Munding. Dia cepat-cepat pergi kesana. Ternyata, wanita yang pingsan di dekat umbul adalah isterinya.
Setelah sadar, Srikunti menceritakan apa yang dialaminya. Mendengar kisah Srikunti, muncul kepercayaan dia sudah dibawa pergi siluman Bulus Putih. Sementara, Basman berjanji tidak akan mabuk-mabukan lagi.
Srikunti menjalankan pesan putri gaib yang menemuinya. Dia menyediakan bunga tujuh warna. Setelah itu, dibawa ke umbul dengan ditemani Basman, suaminya.

Keduanya menunggu datangnya sang puteri. Tetapi di tunggu sampai jauh malam sang puteri tak kunjung datang.

“Apakah sang puteri menipu saya, sehingga dia tidak datang?” Gumam Srikunti.
Karena tidak ada tanda-tanda sang putri akan datang, Srikunti dan Basman memutuskan meninggalkan umbul. Tetapi baru saja melangkah, tiba-tiba terdengar ada suara yang memanggil mereka.
“Kalau kamu ingin harta banyak jangan tergesa-gesa!” Kata suara dari dalam umbul.
“Kamu siapa?” Tanya Srikunti.
“Saya siluman Bulus Putih yang menunggu Umbul Manding.”
Srikunti dan Basman terdiam. Di hadapan mereka tampak sesosok putri cantik jelita.
“Kalau kamu ingin kaya, jaga umbul ini supaya sumbernya tetap besar!” Kata sang putri lagi.
“Bagaimana caranya?” Tanya Srikunti.
“Caranya gampang. Semua wanita yang di sini kalau mandi jangan ada yang menutupi payudara. Sebab, kalau ada yang berani menutupi payudaranya, siluman Bulus Putih akan marah.”
Setelah memberi pesan demikian, sang putri menghilang.

Entah bagaimana, cerita dari mulut ke mulut ini akhirnya dipercaya oleh banyak orang. Terutama warga Desa Semanding dan sekitarnya.

Ya, karena masih banyak yang percaya, sampai sekarang masih banyak orang yang ngalap berkah ke Umbul Manding. Apa lagi kalau malam Jum’at Legi, banyak warga luar Desa Semanding yang datang. Mereka melakukan ritual pamer payudara.
Pemandangan unik bisa saja kita saksikan. Selepas mandi dari Umbul Manding, banyak yang pulang dengan telanjang dada. Payudaranya dibiarkan dilihat orang.

Artikel Ini Bermanfaat,,,,,,,Mohon Tinggalkan Kritik dan Saran Karena Kritik Dan Saran Anda Sangat Berarti Buat Admin ! Mohon Perhatianya Terima Kasih ,,,,,,,,,,,
Source: exelroze.info 
ReadFull Article ..

Cerpen Sedih Benar Benar Tak Bisa

BENAR-BENAR TAK BISA
Oleh Ellaisda

Kamarku mulai terasa hangat. Cahaya sang mentari mulai menyilaukan mataku yang belum sepenuhnya terbuka. Aku berusaha bangun dari ranjangku dan berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Segera mandi, dan bla bla bla. Rutinitas pagi yang setiap pelajar lakukan.
“Pagi ayah, ibu..” sapaku saat bertemu mereka di meja makan
“Makan dulu gih..” pinta ibuku
“Nggak deh bu, si Ega udah nungguin di depan rumah. Nih, dari tadi dia misscalled melulu.”
“Kok nggak diajak masuk?” sahut ayahnya
“Nggak usah yah. Kapan-kapan saja, udah keburu nih. Berangkat dulu Yah, Bu. Assalamualaikum.” Ucapnya sambil mencium tangan ayah dan ibunya
**

“Ayo cepetan! Sudah hampir telat nih..”
“Iya iya, sabar sedikit lah. Bawel banget sih jadi cowok.” Aku segera naik keboncengan motornya
Ega itu temanku sejak TK. Rumah kami dekat, jadi setiap hari selalu berangkat bersama. Kami sangat dekat. Kemana-mana selalu berdua. Dimana ada dia, disitu ada aku. Seperti Galih dan Ratna. Banyak orang yang salah paham saat melihat kami berdua, banyak yang mengira kami pacaran, padahal belom (Ngarep jadi pacar).
**

“Huft, untung belom telat. Kamu sih, LEMOT..” sambil menjitak keningku
“Argh, sakit tau! Dasar bawel. Biasanya kamu yang telat saja aku nggak protes, giliran aku, diomelin terus. Huh!”
“Heh, wajah mu nggak cocok buat marah. Nggak kelihatan imut tau!” goda Ega
“Whatever you said. I dont care.” Aku pun bergegas masuk ke kelas, diikuti oleh Ega
**

Aku duduk di bangku ku. Lalu tiba-tiba Ega nongol di sampingku, padahal kelasnya berjarak 2 kelas dari kelas ku. Belom sempat aku nanya, dia sudah berceloteh duluan.
“Eh, Ra, jadi pengen cari pacar nih. Anak kelas 1 imut-imut ya?”
Aku tersentak. Terus terang, aku merasa cemburu. Tanpa disadari, perasaan cinta telah ada dan berkembang dihatiku. Entah dari mana dan sejak kapan cinta itu datang, tapi yang jelas, kebersamaan kami telah menumbuhkan benih-benih cinta. Tapi aku tak berani mengungkapkannya. Aku takut akan merrusak persahabatan kami.
“Ya itu sih terserah lo. Kan lo yang ngejalanin, lagian juga sering begitu kan sama cewek lain. Dan lagi, cewek kelas 1 banyak yang centil kan? Lo suka kan?” jawabku dengan nada sinis
“Jealous ya? Aku nggak suka sama cewek centil, yang penting baik, cantik, imut dan plus plus lainnya. Haha” ia tertawa sendiri, padahal menurutku nggak ada yang lucu. Kubalas saja dengan senyum nggak ikhlas. Tapi aku lega mendengarnya. Untung saja dia punya selera yang tinggi. Walaupun dia berulang kali ngomong mau cari pacar, tapi nggak pernah ada yang kena dihatinya. “Alhamdulillah.” batinku
**

Usai pulang sekolah, kami selalu bergegas pulang. Dan seperti biasa, aku menunggu Ega mengembil motornya di depan gerbang sekolah. Nggak di depan gerbang sekolah sih, sebenarnya udah jauh dari gerbang. Sekitar 15 meter lah. Ngga sengaja aku lihat seorang gadis manis yang terlihat ketakutan karena digoda oleh beberapa brandalan yang nggak jelas. Tanpa pikir panjang, aku pun menghampirinya.
“Dek, maaf ya menunggu lama. Ayo pulang.” Aku pura-para saja sok kenal demi menyelamatkannya. Walaupun ia terlihat agak bingung, tapi ia mengiyakan saja tawaranku.
**

Setelah jauh dari berandalan itu,
“Terimakasih ya kak. Aku nggak tau deh, kalau nggak ada kakak tadi. Aku Tita, kelas 1-B.” Ia melempar senyum manis padaku
“Iya dek, sama-sama. Aku Fara, 2-A4. Lain kali, kalau menunggu di depan gerbang saja, atau disini. Memang disana banyak orang nggak jelas. Duluan ya dek.”
“Iya kak, hati-hati.”
Aku bergegas menuju Ega karena sejak tadi ia terus membunyikan klaksonnya.
**

Beberapa hari kemudian, aku bertemu Tita lagi. Kami bertukar nomor HP, dan bahkan Tita pun mentraktirku makan di kantin. Kami menjadi semakin dekat. Ega pun tau hal itu.
**

Pagi ini, Ega terlihat sangat sumringah. Walaupun ia selalu bersemangat dalam segala hal, tapi ia lebih sumringah hari ini.
“Cewek yang kamu tolong dulu namanya Tita kan?”
“Hemb.” Jawabku singkat. Sekarang aku jadi tau apa alasannya dia sumringah banget hari ini. “Pantas saja, kemarin dia memberondongku dengan pertanyaan tentangnya (Tita).” Batinku
“Dia manis ya?”
Aku hanya mengangguk
“Kamu punya nomor HP-nya kan? Boleh minta?” pintanya dengan wajah memelas
“Nih!” ku serahkan HP ku padanya. Aku pun nggak risau, karena dia sering meminta nomor HP cewek lain, tapi pada akhirnya nggak cocok.
**

Ega belakangan ini sangat sibuk. Jarang berangkat bareng, jarang nongol secara tiba-tiba, SMS ku nggak dibalas, telpon ku pun nggak diangkat. “Kemana dia? Kok hilang begitu saja? Apa sih maunya?!” teriakku kesal dalam hati
**

Suatu siang, dia tiba-tiba nongol begitu saja dihadapanku ketika aku sedang mendengarkan musik di headset. Aku lega karena bisa melihatnya lagi.
“Sendirian Ra? Maaf ya, kita belakangan ini jarang berangkat bareng. SMS dan telpon mu juga nggak sempat aku jawab, aku belakangan ini sangat sibuk dan jarang buka HP.” Jelasnya panjang lebar
“Oh.” Jawabku singkat. Aku tahu dia sedang bohong. Padahal jelas-jelas lagi pegang HP, tapi apa aku harus marah gitu? Memang aku siapanya dia?
“Kamu nggak khawatir kalau aku nggak ada kabar?”
“Nggak tuh, biasa saja. Baru seminggu kan?”
“(hahaha). Bilang saja kalau kamu..” belum saja dia selesai menjawab, HP nya berdering. Wajahnya terlihat sumringah dan sedikit gugup saat melihat nama penelpon di layar HP-nya. Aku jadi penasaran dan mematikan musik, tapi tetap memakai heatset. Kini aku bersiap menguping pembicaraannya. Dia menarik napas panjang sebelum menggeser pilihan layar accept pada HP touchscreen-nya. Suara lembut pun terdengar dari HP-nya. Suara yang ku kenal, suara Tita.
“Maaf kak, aku tadi lagi sibuk. Kakak tidak marah kan?”
“Oh, nggak kok.” Jawab Ega dengan senyum mengembang
Entah kenapa, aku menjadi sedih nggak karuan. Aku malah sedih melihatnya senang. Aku malah benci melihatnya tersenyum kepada orang lain. Aku marah, tapi tak tau harus bagaimana. aku ingin meng-ungkapkannya, tapi itu tidak mungkin. Aku menggenggam erat tanganku, berusaha menahan semuanya. Tapi air mata ini tak terelakkan lagi. Aku pun menengis sejadi-jadinya.
**

Suara Ega memecah tangisku.
“Ra, kamu baik-baik saja kan?” tanya-nya dengan khawatir
“Eh, nggak pa-pa. Abis, lagunya sedih banget.” elak ku
“(hahaha) Sejak kapan lo jadi melankolis gini?” ejeknya
Aku tidak menjawab dan masih berusaha untuk terlihat biasa saja.
“Sabtu besok, aku akan menyatakan cinta ke Tita. Kamu ikut ya? Aku pengen kamu yang jadi saksinya.” Pintanya memelas
Aku tersenyum kecut, “Emangnya nikah apa? Pakai saksi segala, hehe.”
Aku berusaha membuat diriku lebih baik. Tapi aku tetap tidak bisa, dadaku masih saja sesak saat tahu kenyataan ini.
**

Hari-hari semakin menyedihkan. Ega semakin gencar menceritakan Tita. Mau tidak mau, aku harus mendengarkan, walaupun dengan wajah bermuram durja. Hatiku seperti bara yang disulut api saat melihatnya tersenyum kepada Tita. Kadang aku berpikir, apakah dia sebodoh itu, hingga ia tidak menyadari perasaanku? Ingin rasanya aku berteriak di depannya tentang perasaan ku, tapi mana mungkin? Itu semua hanya tindakan konyol yang nggak perhatiin sebab dan akibat.
**

Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh Ega. Tapi hari yang ingin sekali aku lewati selamanya. Mereka berjanji bertemu di cafe ini. Cafe yang berinterior sederhana, dengan lampu taman yang menghiasi setiap meja. Memang sangat romantis untuk menyatakan cinta. Aku sangat berharap Tita tidak bisa datang, atau bahkan sesuatu terjadi padanya hingga ia tak mungkin lagi muncul. “Ah, apa yang aku pikirkan? Aku memang mencintai Ega, tapi aku tidak mau menjadi monster untuk mendapatkannya!” celotehku dalam hati
**

Tak berapa lama, Tita pun muncul. Ia muncul dengan wajah yang berseri-seri sambil tersenyum manis pada Ega. Sadar kalau suasananya semakin menyebalkan, aku pun pindah meja. Lalu, Tita duduk di depan Ega, di kursi yang sebelumnya aku duduki. Klimaksnya pun dimulai. Ega memegang tangan Tita, dan mengucapkan sesuatu. Meski aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas, karena tempat duduk kami lumayan jauh, tapi aku bisa menebaknya. “Aku suka kamu. Apa kamu mau jadi pacarku?” kurang lebih itu yang Ega katakan. Sesaat kemudian, senyum manis dan anggukan Tita menyambut pertanyaan Ega.
Aku sudah tidak syok lagi, tapi kenapa hati ini tidak bisa biasa saja melihat semua itu. Dan (lagi) aku menangis. Aku pergi meninggalkan mereka berdua. Aku benar-benar tak tahan. Aku benar-benar tidak mau menjadi saksi cinta mereka berdua. Aku, benar-benar tak bisa.
**

Aku berlari menjauh. Sejauh mungkin dari mereka. Aku ingin pergi ke tempat dimana tidak ada mereka. Tak ada yang menyebut nama mereka. Dan tak ada satu pun tentang mereka.
Tiba-tiba kepalaku terasa berat. Tubuhku lemas untuk menopang tubuh kecilku. Kesadaranku mulai hilang, dan tubuhku ambruk begitu saja. (to be continue)

Demikian cerpen sedih kali ini, tunggu update cerpen sedih selanjutnya ...
ReadFull Article ..